Pelaksanaan wisuda pada masa pandemi kali ini berbeda dari sebelumnya. Rencana awal akan dilaksanakan secara drive thru pada (8-9/8), namun harus ditunda mengingat adanya PPKM darurat sehingga wisuda dilaksanakan melalui daring menggunakan zoom meeting demi kebaikan bersama. Walau begitu tidak mengurangi semangat para wisudawan dalam mengikuti prosesi wisuda yang sakral.
Rangkaian acara wisuda diawali dengan pembukaan yang dipimpin oleh senat IAIN Pekalongan, sambutan dari Rektor IAIN Pekalongan Bapak Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag, sambutan perwakilan mahasiswa oleh Sainah Puteh, S.Pd dari jurusan Pendidikan Agama Islam, pembacaan ikrar alumni, peliputan wisudawan terbaik mulai dari perjurusan sampai ke institut. Terlihat dari rangkaian acara tersebut tidak banyak perbedaan dengan wisuda secara luring. Persiapan seperti gedung yang dibuat megah, peralatan rias make-up, gaun, dan yang lainnya pada wisuda kali tidak diperlukan sekali, karena gelaran wisuda kali ini para wisudawan hanya perlu mempersiapkan handphone atau PC, koneksi jaringan yang stabil, dan mengandalkan pencahayaan yang cukup untuk mengikuti prosesi wisuda daring.
Ada kesan tersendiri bagi para wisudawan, terkhusus bagi anggota Gerakan Pramuka IAIN Pekalongan. Momen wisuda agaknya cukup memberi suntikan semangat agar lebih mantap dan meneguhkan tekat menyelesaikan studi. “Wisuda sebelum Covid-19 menjadi momen yang dinantikan para mahasiswa setelah menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. Pada momen wisuda ini biasanya para mahasiswa tampil maksimal memakai busana formal di balik baju toga. Mereka dipanggil satu per satu ke atas panggung untuk pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan”. Ujar Kak Anna.
Pengabdian anggota Gerakan Pramuka IAIN Pekalongan selaras dengan tema wisuda “Membangun Solidaritas Sosial Berbasis Agama dan Sains di Era Covid-19”. Bukan perkara mudah membagi waktu menuntaskan tugas akademik dan berorganisasi, tetapi para anggota dengan suka rela menjalankan dua amanah tersebut hingga membawa mereka pada pelabuhan terakhir yaitu kelulusan yang telah mereka tempuh dengan perjuangan bertahun-tahun menempa diri.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi. Selain itu, manfaat kita memberikan manfaatkan kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri” tutur Kak Aru.
Redaktur : Farkhatul Ummi