Menurut sebagian pakar, era milenial dianggap sebagai era back to spiritual and moral, atau era kembalinya ajaran spiritual, moral dan agama. Kemunculan era ini ialah sebagai respon terhadap era modern yang cenderung lebih mengutamakan empirik, akal, serta hal-hal yang bersifat materialistik, sekularistik, transaksional, hedonistik, dan fragmatik. Yakni memiliki kecenderungan untuk memisahkan antara urusan dunia dan akhirat
Dakwah merupakan seruan atau menyampaikan sesuatu hal yang baik melalui lisan atau perbuatan kepada khalayak umum. Dakwah dalam implementasinya merupakan kegiatan sadar manusia baik secara perorangan maupun kelompok dalam rangka menegakkan ajaran Islam dan mencapai ridha Allah SWT. Hakikat dakwah ini teretra dalam Surat An-Nahl ayat 125: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Naḥl [16]:125)
Kutipan ayat tersebut mempunyai makna bahwa Allah SWT. memberikan pedoman kepada rosul tentang cara mengajak manusia kejalan Allah, yang di maksud adalah syariat islam yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT. juga menjelaskan kepada Rasulullah bahwa dakwah ini adalah dakwah untuk agama allah sebagai jalan menuju ridanya, Rasulullah diperintah untuk membawa manusia ke jalan allah dan untuk agama allah semata.
Perkembangan zaman tersebut kemudian mengharuskan adanya inovasi dalam pelaksanaan dakwah agar tidak tertinggal oleh zaman, rasanya dakwah tidak cukup bilamana hanya dilaksanakan di dalam pertemuan-pertemuan secara langsung seperti hal nya pengajian, majelis ta'lim, dan lain sebagainya. Seiring perkembangan zaman, dan kemajuan teknologi menjadikan dakwah juga perlu masuk ke dalam dunia digital, utamanya media sosial, yang merupakan tempat dimana masyarakat mencari dan membagikan informasi tentang berbagai hal. Hal ini dikarenakan dakwah media memiliki kekhasan tersendiri yakni tidak terbatas waktu, atau bisa didengar berkali kali. Serta bersifat luas dan menyeluruh.
Sebelum membahas terkait dakwah melalui Media Sosial sebagai Invasi dakwah modern, melalui pendekatan historis, terlebih dahulu dapat kita tinjau dakwah pada Era Rasulullah sebgaai gambaran dan acuan dalam pelaksanaan dakwah pada masa sebelumnya. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan di alam empiris dan historis.[2]
Berdasarkan sejarah perkembangan islam pada masa Rasulullah, Dakwah Rasulullah SAW dapat dikatakan sebagai dakwah yang paling sukses sepanjang sejarah, Hal ini dadasari pada realita bahwa Nabi Muhammad SAW telah berhasil mengubah tatanan masyarakat Arab yang sebelumnya bisa dianggap sebagai masyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat yang beradab berdasarkan nilai-nilai dan ajaran agama Islam dengan hanya membutuhkan waktu selama 23 Tahun.[3] Dengan demikian strategi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ialah dakwah dengan cara berhijrah karena pada masa tersebut belum ada teknologi yang dapat menghubungkan manuisa dari jarak jauh atau dapat disebut sebagai dakwah konvensional.
Strategi dakwah Rasulullah SAW pada masanya ialah menggunakan metode hijrah, beliau melakasanakannya sebanyak dua kali yakni ke Abesenia dan ke Yastrib. Upaya dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ialah untuk memberikan perlindungan kepada para pengikut rasul dari kekejaman kaum musyrikin Quraisy dan kafirin yang senantiasa berusaha untuk memaksa para pengikut rasul agar kembali keluar dari agama islam. Pelaksanaan dakwah ini menuai kesuksesan setelah hijrah ke Yastrib, hal ini dikarenakan dengan hijrahnya rasul ke Yastrib bukan hanya pengikut rasul saja yang mendapatkan perlindungan hingga dukungan, hal tersebut terjadi karena penduduk Yastrib justru mendambakan kedatangan rasul karena keyakinan agama mereka sudah mengisyaratkan akan hal tersebut.[4]
Jika dibandingkan dengan Era Milenial seperti sekarang ini dakwah dengan metode tersebut memang masih cukup efektif untuk dilaksanakan, namun tentunya juga memerlukan biaya tidak sedikit dan waktu yang lama. Pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan dakwah dirasa menjadi solusi sekaligus inovasi dalam menyebarkan syiar Islam. Salah satunya ialah melalui Media Sosial. Dakwah dengan cara ini di era sekarang memanglah cukup banyak digemari utamanya oleh kaum milenial dan atau generasi muda era sekarang. Selain lebih praktis, dakwah tersebut juga memiliki jangkuan yang cukup luas tanpa harus jauh berpindah tempat.
Model pelaksanaan dakwah melalui media sosial juga beragam, mulai dari konten tulis, gambar, hingga video. Audience dakwah atau Mad’u pun dapat memilih konten dakwah sesuai keinginan mereka karena terdapat banyak pilihan baik dari segi isi konten maupun pilihan da’i. Mad’u dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun.jika dibandingkan dengan dakwah konvensional tentu saja seringnya kita hanya bisa memilih da’i saja namun tidak bisa memilih isi dakwah yang kita inginkan. Sehingga dari segi konten, dakwah melalui media sosial dapat dikatakan memiliki keunggulan tersendiri.
Salah satu platform media sosial yang dapat dijadikan saluran dakwah ialah YouTube, platform ini merupakan platform yang berisi video, siapapun dapat mengakses dan berbagi video melalui platform ini. Hadirnya platform ini dapat dijadikan sebagai salah satu saluran dakwah, dengan membuat video atau konten dakwah kemudian menguploadnya dalam platform tersebut. Jangkauan dari platform ini pun sangatlah luas. Dapat dikatakan platform ini memiliki jangkauan hingga seluruh negara di Dunia, namun juga bergantung pada bahasa yang digunakan. Di era sekrang platform ini menjadi salah satu platform yang paling banyak diakses dalam jenis platform berbasis video. Sehingga dakwah melalui platform ini pun bisa dikatakan cukup efektif untuk dilaksanakan. Disamping itu, Instagram juga dapat menjadi platform pilihan selain YouTube.
Strategi dakwah melalui media sosial pun perlu diperhatikan, dari mulai isi konten, durasi konten, hingga sajian gambar ataupun video yang menunjang isi dakwah. Konten konten dengan durasi singkat dengan isi yang padat dan dikemas dengan menarik pada platform Instagram sangatlah diminati oleh Mad’u utamanya kaum milenial dan atau generasi muda era sekarang. Sehingga da’i hendaknya perlu memperhatikan hal tersebut ketika hendak berdakwah melalui media sosial. Durasi video yang panjang seringkali membuat penonton jenuh bilamana dikemas kurang menarik. Begitupula dengan model kontennya, konten yang bersifat flat akan kurang diminati dibandingkan dengan model konten yang bersifat fleksibel dan tidak monoton.
Salah satu Da’i yang menurut penulis menerapkan strategi dakwah yang sangat baik di media sosial ialah Habib Husein Ja’far, beliau merupakan seorang Habib dan penda’i yang tergolong masih muda. Pendekatan dakwah yang dilakukan beliau juga sangat menarik untuk anak anak muda Beliau menggunakan platform YouTube sebagai platform utamanya, Beliau menamakan kontennya dengan judul “Pemuda Tersesat”. Model dakwah yang menyasar kepada anak muda ini beliau lakukan dengan konsep tanya jawab yang diselingi pula dengan komedi sehingga sangat menarik minat anak muda untuk mendengarkan dakwahnya. Pertanyaan tersebut dikumpulkan oleh Habib Husein Ja’far dalam kolom komentar videonya yang kemudian beliau jawab di Video berikutnya. Menariknya ialah beliau lebih sering menjawab pertanyaan pertanyaan yang bisa dibilang cukup unik dan tidak biasa. seperti pertanyaan ‘gimana hukum jual ginjal untuk naik haji?” atau pertanyaan terkait “apakah orang buta warna bisa melihat api neraka?”.hingga pertanyaan “Hukum sholat di Klub Malam”. Dan masih banyak lagi.
Pertanyaan pertanyaan tersebut tentunya tak lazim kita dengar saat mengikuti pengajian atau ceramah pada umumnya. Namun Habib Husein Ja’far tetap menjawabnya dengan balutan komedi dari rekannya yakni Tretan Muslim dan Coki Pardede. Hal tersebut sangat menarik minat para generasi muda terlebih dengan pertanyaan yang seringkali berasal dari kedekatan kedekatan disekitar anak muda. Secara tidak langsung anak muda yang menonton konten Habib Husein Ja’far selain mendapatkan ilmu dari penjelasan yang disampaikan Habib, namun juga mendapatkan hiburan yang sangat menarik. Sehingga mereka seperti tidak sedang mendengarkan ceramah tetapi mereka mendapatkan pembelajaran agama di dalamnya.
Dakwah melalui media sosial juga menemui berbagai tantangan Beberapa tantangan itu sendiri diantaranya kemajuan teknologi dan informasi yang cukup pesat, hal ini mendorong berbagai kemudahan bagi manusia. Salah satunya ialah lebih mudah berkomunikasi antar sesama melalui suatu jaringan yang terhubung melalui internet. Namun tak jarang kemudahan ini juga mendorong tindakan negatif dalam komunikasi menjadi lebih mudah, misalnya melakukan penghinaan, menggunjing, atau menjelekan orang lain, dan bahkan menyampaikan berita bohong (hoax). Berdasarkan situasi tersebut tentunya menjadi tantangan bagi seorang da’i, seorang da’i perlu memposisikan dirinya untuk terjun dalam dunia media sosial pula agar mengetahui pola pola dan situasi yang terjadi didalamnya sehingga dapat memformulasikan metode dakwah yang tepat di dalamya.
DAFTAR PUSTAKA
Nata. A. (2018). Pendidikan Islam Di Era Milenial. Conciencia Journal,
Hakim, A. A., & Mubarok, J. (2017). Metodologi Studi Islam. Rosda
Said bin Ali Al-Qhatani, (1994), Al-Hikmah fi Al-Da’wah ila-Allah,
Syamsudin, R. S. (2009). Strategi dan Etika Dakwah Rasulullah SAW. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies, 4(14),
[1] Abuddin Nata. (2018). Pendidikan Islam Di Era Milenial. Conciencia Journal, hal 719
[2] Hakim, A. A., & Mubarok, J. (2017). Metodologi Studi Islam. Rosda. Halaman 46
[3] Said bin Ali Al-Qhatani, (1994), Al-Hikmah fi Al-Da’wah ila-Allah, halaman 67
[4] Syamsudin, R. S. (2009). Strategi dan Etika Dakwah Rasulullah SAW. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies, halaman 14